Masa-Masa di Kosan: 3 Bulan ke 3 (Februari, Maret, April 2007)

Februari 2007
Hari Valentine datang. Aku masih jomblo. Begitupun Cipto. Ya sudah, karena masing-masing tidak memiliki date, jadilah kami janjian untuk merayakan Valentine berdua. Hari itu aku berdandan ala girly karena janjiannya seperti itu. Aku mengenakan kemeja garis-garis pink, celana panjang kain hitam, tas jinjing hitam, dan sepatu hitam berhak 3cm bergaris pink. Rambutku yang ber-highlight dicatok, dibelah pinggir, dan dijepit pink samping dengan manisnya.

Sore pun tiba, aku langsung turun gedung dan menghubungi Cipto. Cipto masih terjebak macet. Aneh bin ajaib, biasanya laki-laki lah yang menunggu perempuan dalam berkencan. Cipto akhirnya tiba juga. Dia mengenakan kemeja putih, rompi biru navy, celana kain abu-abu, dan tas selempang. Rambut potongan pendek rapih di-gel. Tidak lupa kacamata bertengger di muka.

Kami langsung mengambil P19 menuju ke Plaza Senayan, Sushi Tei. Karena kami hanya pegawai miskin yang pelit jadi kami hanya memesan piring yang berwarna biru dan pink. Minum juga memilih ocha dingin yang freeflow. Tak lupa, kami juga menyemil acar jahe gratis. Tapi, kami puas sekali. Kami duduk di meja samping jendela menghadap pelataran parkir.

Selesai dari Sushi Tei kami berputar-putar di Plaza Senayan bergandengan tangan. Tiba-tiba Cipto menegur: ‘emangnya kita anak SD?’ Aku baru sadar aku bergandengan tangan dengan dia dan mengayun-ayunkannya. Maklum, biasanya aku bergandengan dengan perempuan (Irma) dan biasa berayun-ayunan tangan.

Capek jalan-jalan, kami mampir ke Starbucks, ngopi-ngopi. Kami lalu bercerita-cerita nostalgia jaman SMU. Bercerita bagaimana kesan aku terhadap Cipto waktu SMU: si kecil yang ceriwis dan bagaimana kesan Cipto terhadap aku saat SMU: Jutek mampus.  Pulangnya aku diantar Cipto sampai ke kosan.

Beberapa hari kemudian di suatu hari Jumat, dalam rangka merayakan M. Dewi mendapat bonus aku ditraktir M. Dewi makan Sushi Tei. Hari itu aku pulang ke kantor M. Dewi yang saat itu masih di gedung Standard Chartered yang lama. Sepanjang menunggu jam pulang M. Dewi, aku menonton berita bahwa banjir melanda wilayah Jakarta di sejumlah titik. Aku sendiri sebelum sampai ke kantor M. Dewi melihat kemacetan di depan gedungku yang diprakasai oleh luapan sungai Benhil yang kulihat dari gedung M. Dewi bekerja ini seperti luapan air cokelat.

Kami ke Sushi Tei Plaza Indonesia dengan P19. Selesai dari Sushi Tei, kami kesulitan mendapat kendaraan, akhirnya kami menaiki sebuah bus patas dan sampailah di depan Bank Indonesia. B. dodi akhirnya menjemput.

Akhir pekan kuhabiskan di apartemen M. Dewi di dekat Ancol karena banjir melanda jalanan di Jakarta. M. Dewi yang kebosanan akhirnya mengajak jalan-jalan ke Ancol. Kami bersantap seafood di restoran Bandar Jakarta (apa rayaan ultah mami ya???) dengan hidangan cah kangkung, ikan pecah kulit, ikan bakar, dan kepiting telur lada hitam (Aaaahhh.. Pingin lagiii!!!!).

Saat berjalan-jalan di pinggir pantai, aku mendapat SMS dari Irma. Dia bilang bahwa kosan dia kebanjiran sampai se-paha. Dia terpaksa mengoyok (berjalan di genangan air) dengan genangan air setinggi paha (eeewwwwww… membayangkannya saja udah.. huek!). Dan katanya, berikut dengan pemandangan bangkai tikus dan kecoak mengapung di sekitar (triple eeeeewwwwww!!!!). Irma lalu harus memanjat jalan tol, naik tronton, dan naik bus ke bogor ke rumah kakaknya, mengungsi (Ya Ampun Gusti… Ga kebayang gatal-gatal sepanjang jalan karena air kotor!).

Kosanku ternyata baik-baik saja karena letaknya tinggi, meski orang-orang di dalamnya tetap saja tidak dapat ke mana-mana. Hari Senin pagi, air sudah mulai menyusut, aku mencoba masuk kantor. Jreeeeng!!! Hanya ada resepsionis, aku, dan 2 orang jepang. Esok harinya baru bermunculan yang lain.

Maret 2007
Di ulang tahun almarhum papi, aku pulang ke cirebon, nyekar.

April 2007
Aku dan sekeluarga ke Bandung. M. Dewi ingin merayakan … (aku lupa). Akhirnya keluargaku dan keluarga B. Dodi makan bersama di Warung Laos di daerah Cipaganti. Aku memesan Sirloin Steak dan Youghurt dengan potongan Strawberrry (Pingiiiiin Lagiii!!!!!). Di rumah Bandung, aku baru sadar bahwa aku tidak membawa bawahan ganti. Alhasil, aku tidak berganti celana panjang selama di Bandung, padahal celana ini sudah aku pakai seharian kerja dan naik kereta… Owwww!!!

Dari Warung Laos, aku tidak ikut pulang ke rumah Bandung. Aku ada acara dengan Tatu. Malam itu aku menginap di rumah Mia. Irma terkaget-kaget melihatku mengenakan baby-doll, sepertinya aku sedang out of character. Kami berempat (Irma, Mia, Nura, dan Aku) bergossip dan nonton DVD. Besok sorenya, aku ke kosan Nanan. Dari kosan Nanan, aku dan Nanan ke Sushi Tei Bandung. Cipto dan 2 temannya (Cheva dan Dika) ikut bergabung. Kemudian, tercetuslah: Nonton PERSIB vs. PSMS Live dari Siliwangi Stadion!

Kami tentunya tidak fokus menonton, justru malah sibuk berfoto-foto ria. Penonton di sekitar kami pun jadi ikut-ikutan menonton kelakuan narsis kami. Aku ingat ada bule di sampingku yang tersenyum-senyum geli melihat Cipto sibuk berpose. Acara menonton ini pun diselingi adanya pencopet yang dengan kurang ajarnya merogoh kantung belakang celana Dika, untung Dika menaruh semua barang-barang berharga di tas yang dia hadapkan depan dada. Sepulang dari nonton bola, karena lapar dan haus, kami mampir ke Madtari, warung tenda-tenda, dan berfoto-foto lagi. Di sinilah tercetus ide untuk tour ke kebun binatang ITB.

Esok paginya, Aku berangkat secara terpisah dengan Nanan karena Nanan harus menjemput Oma terlebih dahulu. Karena kemacetan, angkot yang kunaiki putar balik dan tidak lanjut ke ITB. Akhirnya aku turun di dekat Gasibu. Begitu turun dari angkot, hidungku yang tajam ini mengendus sesuatu yang familiar: LUMPIAH BASAH! (Ahhhh.. kangen lumpia basah!!!!) Aku pun meng-SMS Nanan, apakah dia ingin. Akhirnya kubeli 2 porsi.

Sudah lama aku tidak ke Bandung dan menyelusuri jalanan yang biasa aku, mia, nura, dan irma, telusuri kalau makan-makan di Jl. Imam Bonjol, Dipati Ukur. Kuputuskan untuk jalan kaki saja ke ITB. Sesampai di ITB, kuperiksa HP, Cipto dan Nanan telat. Akhirnya aku menikmati lumpia basah sendirian sambil menanti kedatangan mereka.

Cipto akhirnya datang bersama temannya, Dika.

Cipto, “Buset! Dari jauh gw kira lo bule beneran!” Kalimat ini keluar karena penampilanku: rambut ikal cokelat tembaga yang semakin terang di bawah sinar matahari diikat asal, kulitku memang terang dan aga kemerahan karena bekas jerawat plus kalau terkena panas berefek seperti ini, tas ransel biru yang bertengger di pundak, kaos warna ungu lengan ¾, celana kain biru donker yang terpaksa digulung setengah betis karena terkena lumpur saat nonton bola semalam, dan sendal jepit manik-manik telpek. Singkat kata: seperti bule lagi back-packing. (Halaaaah..)

Segera setelah semua berkumpul, kami menyerbu kebun binatang, dan berpose di manapun kami bisa. Kelakuan kami tidak kalah menarik dari penghuni kebun binatang. Pertama-tama kami berpose di depan Kandang Harimau Loreng. Sialnya, harimau ini sedang malas, dia tiduran saja. Kesal sudah niat datang, tapi si harimau tidak mau beraksi, Aku dan Cipto menoel-noel si harimau dengan ranting. Eh.. si Harimau bersin. Cipto langsung ngibrit sambil teriak, “Aaaaaah!!! Flu Macan! Flu Macan!” yang kontan menarik perhatian pengunjung lain.

Dari kandang harimau, kami ke sarang ular. Tak lupa berpose di bawah palang SARANG ULAR dengan gaya seakan-akan ular yang berdiri.  Aku jadi ingat dengan Britney di tahun 2001 yang menari di MTV MA dengan ular piton albino. Kebetulan ada ular piton pendek, langsung deh aku request minta pose dengan ular di pundakku. Nanan, Cipto, dan Dika akhirnya ikutan berpose bersama ular. Ada satu ular kecil yang narsis banget, di mana kamera ada, kepalanya selalu menghadap ke arah lensa.

Kemudian kami ke kandang burung bangau, saat sedang bertengger di pagar kandang, Aku dan Cipto merasakan ada sorotan, ternyata benar, Nanan mengarahkan kamera ke arah kami, langsung deh kami berpose. Eh, Nanan bilang, “ini bukan foto…” begitu mudeng, Aku dan Cipto langsung melakukan gerakan-gerakan aneh bin ajaib, yang kata Dika sih, “kalaupun di pajang di Youtube ga bakalan ada yang nonton.”

Kami melihat kandang anak buaya. Cipto menyuruhku berpose di bawah plang bertuliskan AWAS GALAK! dengan muka jutekku senatural mungkin, bukan hal yang sulit bagiku tentunya yang sedari bayi pun mukanya jutek banget.

Kami lalu menyewa perahu untuk berkeliling danau hanya untuk kami berempat saja. Nanan ikutan mendayung. Aku, Cipto, dan Dika sibuk berpose di depan kamera.

Usai berkeliling danau, kami istirahat di suatu gubuk, aku dan Cipto sesumbar suara menyanyikan lagu Bryan Adams dan Barbara Streissand “I Finally Found Someone”. Capek nyanyi-nyanyi, butuh minum. Akhirnya kami makan di warung. Aku pesan gado-gado. Di tengah-tengah acara makan, tiba-tiba Cipto membelalakan mata dan tangannya terjulur menunjuk ke suatu arah di luar warung sambil berteriak, “AAAA!!! AAAAA!!!! Ontaaa!!! Ada Ontaaa!!!!” Kaget, dong, kami bertiga, kirain ada apaan. Ternyata ada onta yang bisa dikendarai.

Akhirnya tour ITB Zoo usai. Waktu keberangkatan kereta balik ke Jakartaku masih 2 jam lagi, jadi kami memutuskan untuk ke BIP, makan lagi, karena tadi kurang kenyang dan aku harus beli bekal untuk di kereta. Sebelum ke BIP, kami menyempatkan diri ke BTC, nyetor hasil-hasil foto untuk diprint. Akhirnya jam 4 sore, aku sampai di stasiun di antar Nanan dan Cipto. Dika ada keperluan, jadi dia turun di tengah jalan.

April yang tidak akan terlupakan!!!!

Leave a Reply