Masa-Masa Di Kosan (Tiga Bulan Pertama, Juli-Oktober 2006)

Masa-Masa di Kosan

 

Tiga Bulan
Pertama (Juli-Oktober 2006)

 

Sampai saat ini hingga 7 minggu mendatang, aku tinggal di
sebuah bangunan rumah kos-kosan di suatu titik di ibukota. Rumah ini terdiri dari
3 lantai, masing-masing lantai terdiri dari 20 kamar. Dilihat dari jumlah kamar
saja, tentu sudah terbayang betapa besarnya rumah ini, bukan? Karena luasnya
rumah ini, sampai-sampai temanku waktu awal-awal main ke kosanku, sering
tersasar di dalam rumah (hemmmm jadi terbayang rumahnya Tao Ming Tse, ya???
He3x.. Jauh, kok..). Tapi, kalau dilihat dari luar, orang mungkin akan mengira
itu kandang burung, maklum bangunan tua, dan memang bentuknya aneh.

 

Aku tinggal di kosan ini sejak bulan Juli 2006 setelah
diterima di salah satu perusahaan asing di dekat kosan. Awalnya aku berbagi
kamar kosan dengan kakak perempuanku (M. Dewi) karena 3 bulan kemudian dia akan
menikah, jadi aku hanya melanjutkan ijin menyewa saja. Karena belum tahu
bagaimana situasi Jakarta,
ditambah dengan cerita-cerita anak-anak di KKN Majalaya 2004, Aku tidak pernah
pergi ke mana-mana di bulan-bulan awal tinggal di Jakarta. Jalan-jalan pertamaku di Jakarta adalah ke
Sushi Tei di Plaza Indonesia. Aku diajak M. Dewi. Aku langsung jatuh cinta
dengan Sushi Tei, makanan bervariasi dan minum freeflow.

 


Kegiatanku
pada awal-awal di kosan hanya: baca buku, bersih-bersih kamar, nonton DVD
bajakan, dan berbincang-bincang dengan teman-teman kosan (bersosialisasi). Selama
tinggal dengan M. Dewi, kadang-kadang Aku membantu menyiapkan pernak-pernik
pernikahannya: undangan dan tanda terimakasih. Tanganku tidak begitu terampil
untuk kerajinan tangan, jadi segera saja M. Dewi memecatku dari urusan
gunting-menggunting amplop undangan yang tutupnya kepanjangan karena hasil
guntinganku miring-miring.

 

Di pagi
hari aku biasanya sibuk menata rambut karena saat itu aku belum kembali pakai
krudung, rambut ikalku tergerai sampai sedada. Aku memang sengaja
memanjangkannya untuk pernikahan M. Dewi, jadi aku tidak usah pakai rambut
palsu untuk sanggul.

 

Karena gaji awalku kecil, Aku harus berhemat. Aku tidak mau
meminta suntikan dana dari mami karena tentunya gengsi, dong, sudah lulus kuliah dan berani merantau di kota lain, masa masih minta suntikan dana? Kapan
aku mandiri? Begitu pikirku. Akhirnya, aku pulang pergi jalan kaki. Jarak
kosan-kantorku lumayan dekat. Kalau aku berjalan kaki dengan kecepatan normalku, dapat
dicapai dalam 15-20menit. Yah..hitung-hitung olah raga.

 

Penghematan
juga dilakukan di ‘makan’. M. Dewi menyarankan untuk beli sarapan di suatu
warteg di dekat kosan, harga murah dan rasa lumayan. Untuk makan siang, aku
membeli makanan di samping gedung, yang disebut sebagai ‘penjara’ oleh
orang-orang kantor, karena kita bertransaksinya lewat pagar, terkadang malah
memanjat dan menempel dipagar. Untuk makan malam, terkadang aku beli sendiri,
tapi terkadang M. Dewi membawakan aku makanan.

 

Untuk
kebutuhan pakaian, sepatu, dan tas, aku tidak kesusahan karena saat kuliah aku
sering mengenakan kemeja dan sepatu fantovel (CMIIW). Perusahaanku juga tidak
menuntut pegawai untuk mengenakan baju yang resmi. Tambah lagi, aku dapat
meminjam pakaian dan tas M. Dewi.

 

Baru sekitar 2 minggu Aku bekerja, Aku mengalami imbas peristiwa gempa. Aku sedang duduk manis mengerjakan tugas (atau sedang pura-pura sibuk ya…??? hohohohohoho), tiba-tiba merasa limbung dan agak pusing (sempat mengira pusing karena AC yang tepat di atas kepalaku)..dan tiba-tiba senior kantorku teriak, ‘Eh, Goyang nih! Gempa!’

Sorenya, sepulang kantor karena capek, Aku berbaring dengan bantal menumpuk. Tidak lama kemudian, Aku merasa kasurku goyang-goyang, maju-mundur, dan bantalku turun. Ada teriakan-teriakan di kosan. Karena Aku tidak merasa yakin itu gempa, Aku tetap di kamar. Goncangan semakin keras, akhirnya Aku merasa yakin kalau itu gempa dan keluar kamar. Kosan sudah sunyi, orang-orang sudah berhamburan keluar. Malamnya, Aku, M. Dewi, Kak Thea, dan Kak Yasmin tidur dengan waspada (baca: dengan tas darurat siap dekat tangan).

Bulan
September 2006 M. Dewi menikah, aku pulang ke Cirebon dan kembali lagi ke
Jakarta pada hari minggunya sebelum resepsi pernikahan benar-benar selesai
karena aku harus mengejar kereta sore. Aku tidak berani untuk mengambil kereta
yang lebih sore lagi karena aku tidak berani berada di luar kosan di Jakarta
pada malam hari.

 

Hari Senin, September 04, 2006, pada jam istirahat, aku
memotong rambutku di salon di halaman gedung kantorku. Rambut masih panjang,
hanya dirubah bentuknya sedikit.

 

Irma, teman kuliahku, juga mendapatkan pekerjaan di Jakarta, tapi di daerah
Kelapa Gading. Karena aku sekarang menguasai kamar sendiri, Irma kadang datang
dan menginap. Aku pun kadang datang dan menginap di kosan Irma.

 

Di bulan puasa pertamaku di Jakarta, kebetulan saat itu aku sedang
berhalangan, begitupun Irma, saat itu musim kemarau yang panas sekali. Akhirnya
Irma dan Aku memutuskan untuk jalan-jalan ke Mall terdekat, Plaza Semanggi. Aku
yang menemukan 1 helai rambutku bercabang 3, memutuskan untuk memotong rambut
lagi. Kali ini panjangnya
hanya sepundak. Tapi rambut ini pun tidak bertahan seberapa lama. Akhirnya Aku
memotong rambut lagi hingga hanya tersisa 3-4cm.

Untung pertama kali dalam hidupku aku mengerti mengapa pekerja-pekerja begitu bahagia dan berharap datangnya THR. THR pertamaku, aku belikan DVD player yang kebetulan sedang ada diskon di sebuah supermarket.

 

Di tahun
ini lah, pertama kalinya aku merasakan mudik dengan ongkos dari jerih payah
sendiri.

Leave a Reply