Liburan semester yang pertama Ra tidak ambil Semester Pendek dan menghabiskan waktu di Cirebon. Ternyata teman-teman SMU Ra yang kuliahnya beda Universitas ada yang ikut SP lah, ada yang masih ujian lah, pokoknya di Cirebon sepiiii…
Pengalaman yang paling berkesan di liburan ini adalah mengelilingi Grage Mall selama 6 jam bersama Alfan n Adam, dua teman SMU yang tahu bagaimana mengisi waktu dengan kegilaan sesaat. Mereka memasuki tiap counter dan iseng menanyakan apapun. Alfan menantang Ra untuk bertanya mengenai produk pembesar payudara di INNOVATION, ya…Ra lakuin. Mereka juga melakukan permainan me-matching-kan baju beserta aksesoriesnya, yang paling mahal kalau dijumlahkan semua harganya itu yang menang.
Liburan semester yang kedua, Ra kapok dengan kegaringan sebulan dan karena Ra emang agak sinting, terobsesi cepat lulus dan segera cari duit, jadi begitu dengan boleh ambil ke semester atas, Ra langsung ambil. Salah satu hal yang Ra ingat dalam proses mengambil SAT ini adalah saat meyakinkan informasi tersebut dengan bertanya pada TAG dan dijawab dengan sinis…brrr..rasanya pingin jedotin kepalanya ke pilar yang lagi dia sandarin saat itu.
Seperti biasa dosen wali Ra sulit ditemukan dan akhirnya kertas KRS Ra jadi terlunta-lunta dan baru dimasukkan ke administrasi pada waktu-waktu terakhir. Awalnya ‘Meg Ryan’ keberatan meng-acc 15 SKS KRS SAT Ra, tapi begitu melihat kesungguhan (atau kegilaan) di mata Ra akhirnya di-acc dengan dibumbu, "pokoknya kalo nilai kamu turun, ibu sudah mengingatkan."
Kuliah 15 SKS dengan waktu hanya 2,5bulan ternyata tidak semudah yang Ra kira…khe3x…tapi Ra menikmatinya.
Di saat ini pula, akhirnya untuk pertama kali Ra main ke kosan Bu Kucing karena Wise Daughter datang ke Bandung juga, malu dunk kalo Ra ga datang ke kosan Bu Kucing hanya dengan alasan males naik angkot, padahal Wise Daughter dah datang jauh-jauh dari Bandung, 3-4 jam perjalanan. Saat itu sebenarnya Ra masih ada tugas kuliah yang belum Ra selesaikan, itu pun tugas Ra bawa ke kosan Ibu Kucing, meski tak tersentuh karena sibuk menebus kangen dengan Ibu Kucing & Wise Daughter. Tapi ya…gitu, kalo keinget sama tugas muka Ra jadi tegang.
Pada suatu sore, Ra sedang menatap cermin di kamar Ibu Kucing, dan tiba-tiba di luar kamar Ibu Kucing ada keramaian, "Abang" pokonya orang yang dipanggil "abang" itu disambut dengan meriahnya sama orang-orang, Ra ga ngerti kenapa, cuma mikir "ada apa sih dengan orang ini kok populer banget?" Eh…ternyata dia penghuni kamar depan kosan Ibu Kucing. Saat dia berdiri di antara kamar Ibu Kucing n kamarnya, Ra melihat "abang" itu, Ra sempet kaget soalnya dengan pencahayaan yang payah di lorong itu, "abang" itu sekilas mirip dengan mantan Ra yang hubungannya berakhir berantakan.
"Abang" itu melihat ke kamar Ibu Kucing dan bilang, "Nan, punya temen kok ga dikenalin" akhirnya Ra dan Wise Daugther berkenalan dengan dia yang ternyata bernama A***n, setelah dilihat dengan pencahayaan yang terang, ternyata dia ga mirip ma mantan Ra, tapi Ra masih shock saat itu. Ra ingat suara dia mirip sekali dengan suara sepupu Ra, Mas Adi. Saat itu dia mengenakan celana panjang kain hijau lumut, kemeja hijau muda pucat yang lengannya digulung, n dasi yang dilonggarkan, rambutnya ikal dan gondrong.
Besoknya saat Ra mengantri mo ke kamar mandi, Ra berdiri di muka pintu kamar Ibu Kucing dan teringat dengan tugas-tugas yang belum selesai, rasanya resah banget, jadi aja Ra ngelamun yang kemudian merasa seperti ada yang memperhatikan dari samping kiri. Saat Ra tengok, ternyata "Abang" itu sedang duduk (jongkok tepatnya) di sofa ruang tamu dengan mengenakan sarung putih. Entah ya, mungkin karena masih shock kemarin, Ra hanya menatap sekilas ke "Abang", tapi ternyata dia tampan. Berjalan dengan waktu, akhirnya Ra lebih dekat dengan "Abang" yang ternyata orangnya sangat aneh dan misterius yang bikin Ra semakin ingin kenal dan dekat dengan dia. Gara-gara "Abang" ini pula, Ra jadi lebih ‘damai’ sebab dia menunjukkan secara tidak langsung bagaimana sakitnya kalau diperlakukan dengan jutek, judes, sinis etc…"Abang" pernah bernyanyi "Original Sin - Elton John" di samping Ra dengan suara dia yang fals yang Ra rasa sanggup membuat kucing lari terbirit-birit, "Abang" menyanyikan baris "I can’t eat, Can’t Sleep, Still I hunger for you when you looking at me." Ra akhirnya menjalin hubungan dengan "Abang" ini tepat November 05, 2003 pukul 00.07. Tapi ya…mungkin karena saat yang tidak tepat dan banyak kesalahpahaman dan kurang komunikasi, akhirnya kandas setelah 8 bulan. Tapi…ya…Hakuna Matata, letakkan masa lalu di belakangmu. "Abang" memang pernah menjadi orang yang sangat special di hati Ra. Kalo ketemu cowok kecengan biasanya Ra kan jadi berenergi yang belebihan, tapi kalo ketemu orang yang satu ini Ra justru rasanya membeku dan tidak bisa bernafas. "Abang" itu sepeti laut, kadang adem, kadang … pokoknya susah ditebak, bahkan Ra lebih gampang mencerna Mr. Krapp. Ya sudah lah… Hakuna Matata…
Mata kuliah poetry, khi3x…saatnya beromantis ria, soalnya yang ngajar emang begitu orangnya, selalu ingin bebas dari penat dunia. Kalau ketemu Si Rambut Putih ini Ra selalu diingatkan, "Ratih, ingat ya kamu harus menapakkan kaki ke tanah" Ra tahu maksud dia supaya tidak terobsesi mati-matian dengan ideologi-ideologi baru yang Ra baca, tapi di sisi lain…Ra berpikir, ‘masa sih dosen-dosen juga tau kalau julukan aku ‘kuntilanak’?’
Lumayan juga belajar Poetry, Ra akhirnya menciptakan satu puisi ‘kelinci percobaan’ untuk mendiang sepupu Ra, Daniel Candra, satu puisi mengenai sudut pandang Ra terhadap dunia untuk dikumpulkan sebagai tugas, dan satu puisi saat Ra masih dongkol sama "Abang". Rasanya aneh bisa menciptakan puisi meski ecek-ecek, soalnya "puisi" itu masuk ke Black Book Ra. Iya, dulu paling sebel sama puisi, mungkin karena dulu kenalnya puisi Indonesia yang banyak kode tapi ga merujuk pada apapun itu. Tapi puisi-puisi yang Ra baca dan kenal di kuliah sangat berbeda dan justru menyenangkan, seperti permainan memecahkan kode. Ra akhirnya membuat Essay yang membahas puisi W.B. Yeats - Deirdre dalam mata kuliah Modbrit, asik sekali seperti memecahkan kode-kode. Bagi yang baca Da Vinci Code ya…kurang lebih begitu lah kerjaan anak-anak Sastra Inggris, mencari makna di balik sesuatu.
Bicara tentang Modbrit menghubungkan dengan Tag. Jam mata kuliah ini sempat dipindah-pindah karena anak-anak harus mengambil mata kuliah yang belum diambil karena tahun lalu tidak dapat diambil karena bentrok dengan mata kuliah Juhe yang tidak mau menggeser mata kuliah itu. Tag yang tidak tahu apa-apa dengan nada keras dan gusar dan tampang galak bilang, "kenapa sih pada belum ngambil mata kuliah itu?"
Ra jawab, "Bukannya belum, tapi baru, gara-gara tahun kemarin bentrok ma mata kuliah grammar"
Tag "Kok bisa bentrok?" (nadanya makin tinggi n makin gusar)
Ra "Ya salah yang bikin jadwal, dong!" (ikutan gusar dan udah pasang mata melotot)
Tag "Kalo jadwal bentrok bilang ke jurusan!"
Ra (udah sebel banget tuh!) "Yeee, mana kita tau!" dengan mata melotot, bibir maju, kemudian dengan sengit menerabas keluar kelas.
Besoknya Ra denger dari Sinis bahwa Tag juga tahun kemarin ikutan bikinin jadwal dan Ra dengan sialnya ketemu di Gedung B lantai 2 dan di koridor itu hanya ada mereka berdua. ‘DAMN!!!! WHY ME?!!!’ teriak Ra dengan nada tinggi dalam hati. Mau balik badan udah terlambat, Tag udah keburu ngeliat, lagian kalo balik badan kesannya pengecut. Akhirnya Ra diberani-beranikan melenggang ke arah Tag dan setelah jarak lumayan dekat, Ra memasang senyum yang sangat dipaksakan, eh…Tag juga pasang senyum yang ga kalah kaku dan terpaksa, argh!!! Dari raut mukanya terbaca Tag ingat bahwa Ra adalah mahasiswi yang nyolot ke dia kemarin. Begitu lewat dari Tag, Ra langsung lari terbirit-birit. Hiiii…the most freezing moment rasanya!
Ada pengalaman yang ga akan Ra lupain. Saat itu, Ra sedang kuliah bersama dan duduk di barisan paling depan. Karena dosennya memang kocak banget, jadi Ra sering tertawa dan tersenyum. Suatu hari ada yang mengetuk bahu Ra dari belakang, "Ini" kata seorang cowok. ‘Hmmm? Apaan nih?’ Ra mengambil sebuah majalah kampus berjudul Seks itu tanpa memandang siapa yang memberi. Lalu Ra buka-buka halamannya, ternyata di dalamnya ada secarik kertas tulisannya:
"Aku melihat senyum yang sangat di indah di wajah yang sangat elok. Cleopatra kah dia?"
Ra makin bingung, ‘Ini apaan? Gombal banget!’ karena Ra merasa geli Ra tersenyum-senyum sambil menengok ke belakang. Ternyata cowok yang tadi ngasih majalah kampus itu (yang lebih dikenal dengan ‘007′ karena nomor absennya) sedang senyum-senyum sambil memandang ke arah Ra. ‘What the … ?!’ dalam hati Ra sambil membalas senyuman cowok itu dengan senyuman kaku-terpaksa. Seingat Ra, Ra hanya berbicara sekali dengan ‘007′ itu saat ‘minal aidzin’an, dan dia berkomentar: "tangannya halus banget…" yang bikin Ra bengong, soalnya Ra ngga suka pake body lotions, tapi yah…emang jarang kerja berat juga.
Pikir Ra: ‘Kok dia pake Cleopatra ya? Apa dia tau kalo aku juga sadis?’
Beberapa hari setelah kejadian ini, di suatu siang, Ra, Toa, dan Miaw bertengger di bangku penonton Blue Stage untuk menonton Onta yang ikut lomba drama. Ternyata sebelum lomba drama, terlebih dulu ada lomba puisi. Si ‘007′ ikutan lomba juga. Sebelum membaca puisi, dia memberi kata pembuka: "Ini untuk Neng Ratih," sambil menengadah dan mengarahkan kepalanya ke tempat Ra duduk! Dan penonton yang di Blue Stage juga mengikuti arah pandang itu.
AJEGILE!!!
Kompak, Ra, Toa, dan Miaw teriak "GUBRAK!!!" dan akhirnya ketawa terpingkal-pingkal. Wajah Ra sudah merah abis seperti udang rebus.
Dengan tujuan awal yang mulia (melindungi MaBa dari dehumanisation), Ra ikutan jadi panitia ospek, jadi seksi medik. Saat latihan, Ra disuruh jadi berpura-pura jadi anak yang histeris. Latihannya di malam hari. Saat Ra berpura-pura histeris, entah saking bagusnya…eh malah dikira kesurupan. Hebat bener…Ra ampe ngakak abis.
Ra akhirnya cabut dari panitia ospek karena pada suatu malam disuruh kumpul dan jam sudah menunjukkan mau jam 9 malam, tapi belum dibubarkan juga, dan si ketua ospek itu sesumbar mengenai "kekeluargaan" bla bla bla…yang omong kosong. Membantai MaBa itu bukan kekeluargaan!
To Be Continued…