Awal kuliah banget, anak sastra Inggris Strata 1 angkatan 2001 disuruh berkumpul di Aula, Gedung B, Lantai 3, Ra tidak ingat kapan tanggalnya. Mereka diberi penjelelasan mengenai sistem yang ada di perkuliahan. Sistem yang sangat berbeda dengan sistem yang Ra kenal di SMU. Kalau di SMU atau SMP, murid-murid sangat dimanja, setiap ada pengumuman, sebagai murid tidak perlu lari-lari ke ruang jurusan atau Dekanat untuk memastikan kebenaran karena pengumuman itu sampai sendiri di hadapan si murid. Di kuliah…boro-boro, deh. Siapa yang malas ke kampus, akan tertinggal segalanya. Jadwal kuliah yang tidak tentu atau rumor mengenai quiz, UTS, UAS yang entah benar entah salah.
Lebih lanjut lagi, di SMU, kalau murid bolos dan terancam tidak naik, sang guru akan mengejar-kejar si murid untuk mengingatkan. Di kuliah…jangan harap! Yang ada juga si mahasiswa berlari-lari biar tidak ketangkap dan diomeli. Sebenarnya mudah saja kok, lakukan yang benar, ikuti aturan, si dosen juga akan senang mendengar dan memberi waktu pada mahasiswa itu. Yah pakai saja aturan Pancasila, lakukan kewajiban dulu, minta hak kemudian. Kalo kita dah ngejalanin kewajiban, tapi dosen belum memberi kita hak, nah itu adalah saat emas. Ra baru tahu terakhiran bahwa ternyata Ra, Toa, dan Panik sempat membuat cemas (Tag) A.J.A. setiap kali mereka masuk ke ruang jurusan karena mereka memang menjalankan taktik Pancasila. Di kuliah itu bisa dijadikan ajang latihan mental untuk kerja kelak, kesabaran terutama. Ra pernah menunggu lama-lama di Aula bersama anak-anak satu jurusan satu angkatan dan pulang dengan hasil nihil karena apa? Karena dosen wali Ra LUPA bahwa dia adalah dosen wali angkatan Ra. Menakjubkan! Karena baru mengenal kuliah, Ra sempat bengong beberapa detik saat mendengar ‘Meg Ryan’ (E.) mengatakan hal itu dengan tanpa perasaan bersalah. Dan gara-gara ‘Meg Ryan’ pula, Ra merasa kata "sweetheart", "honey", "darling", terdengar seperti, "yes, Stu?" "No, Stu". She’s unbelievable. Ra hanya berterima kasih kepadanya untuk satu hal, yaitu dia sudi meng-Acc KRS SAT Ra yang memuat 15 SKS karena Ra ingin segera lulus jadi mengambil kuliah ke atas.
Bicara mengenai SKS, Ra pertama kenal dari Tag. Hari itu Ra melihat sesosok laki-laki tinggi besar, berambut gondrong ikal dibuntut kuda dengan kunciran berwarna ungu, kulitnya putih, dia memakai kemeja warna orange, pakai topi pancing warna khaki, dan membawa tas ransel hitam. ‘Ih, mirip ‘Tag’ yang di Friends,’ dalam hati Ra. Tag kemudian dengan lancarnya menjelaskan sistem perkuliahan. Dia menganalogikan SKS dengan Tabungan. Awalnya Ra tidak begitu mengerti, namanya juga baru mengenal SKS, tapi setelah praktek baru deh ngeh kenapa dia menganalogikan dengan Tabungan.
Ra menganggap Tag keren plus dia terdengar sangat pintar, Ra sempat mengira dia bukan manusia. Tapi setiap Ra tanya mengenai dia ke senior-senior Ra, mereka memasang mimik aneh, ada yang ngeri, ada yang bengong, yah pokoknya hampir tidak ada yang mengekspresikan sesuatu yang positif. Katanya Tag galak banget. Katanya Tag kalo marah kaya setan (sebagai orang yang memiliki julukan ‘Nyai Basingah’ Ra merasa biasa saja mendengar yang satu ini). Katanya lagi Tag kalo memberi penjelasan membuat pusing saking pintarnya dan jangan coba-coba berpaling dari dia saat dia memberi penjelasan karena antara disindir dan kamu tidak akan bisa mengejar kembali apa yang sedang ia bicarakan. Hal-hal yang didengar dari senior ini lah yang membuat Ra menatap Tag dengan pandangan aneh campur ngeri karena merasa dia bukan manusia. Ra sempat menjuluki dia ‘Setan’ atau ‘Monster’. Setiap melihat rambut keritingnya, benak Ra langsung berkata, ‘Monster!!!’.
Lanjut ke mata kuliah TAL, Grizzly Bear yang ngajar, dijamin tidak akan mengantuk karena dia bersuara sangat keras. Hal-hal yang Ra ingat dari dia adalah dia bangga sekali dengan nama anaknya yang berarti ’suatu asal,’ dan saat UAS di keheningan konsentrasi mahasiswa yang sedang berjuang menjawab pertanyaan dengan baik dan benar, dia memainkan lagu The Police - Every Breathe You Take, dan sialnya itu lagu kesukaan Ra jadi konsentrasi Ra terpecah, yah Ra bersyukur masih mendapat nilai akhir ‘B’.
Entah kenapa Ra tiba-tiba ingat, dulu waktu sebelum Jamsas, suatu sore ada sejenis upacara pembukaan Jamsas. Mahasiswa di kelompokan. Kalo tidak salah Ra satu kelompok dengan Asem. Karena acara yang ternyata ngaret, maag Ra kumat. Ra jadi bener-bener bad mood (Asem akhirnya memberi tahu Ra setelah sudah dekat dengan Ra bahwa raut wajah Ra saat itu sangatlah menyeramkan). Esoknya, Ra diajak bolos acara sore itu oleh teman Ra yang selama ospek di Aula duduk bersebelahan dengan Ra, N.W (Usagi). Akhirnya mereka mengendap-endap ke asrama puteri dan tinggal di sana sampai acara bodoh itu selesai.
Ra ingat acara buka bersama di rumah A.N.H. aka Grace. Grace sangat dermawan. Seumur hidup Ra baru pertama kali ini melihat seorang ‘puteri’, almost perfect. Dia manis, pintar, kaya, badan bagus, etc, etc. Hal yang paling dikenal dari Grace adalah rambutnya yang menyentuh bokong dan keterlambatannya menghadiri kuliah. Keterlambatannya itu akhirnya memunculkan mitos: "Kalau Grace datang tepat waktu, berarti dosen tidak akan hadir." Dan mitos ini tidak sekedar mitos, sering terjadi. Kembali ke buka bersama 2001, Ra yang saat itu juga masih anak kosan, sangat bersyukur hadir di acara itu, dan semua anak kosan yang hadir di sana Ra rasa merasakan hal yang sama. Karena persediaan makanan jauh lebih banyak dari yang hadir, jatah untuk dibawa pulang jadi banyak dan membuat anak-anak kosan kurang gizi tersenyum bahagia.
Balik ke masalah kuliah, ada satu dosen umum, dia sudah tua, Pak Buaya atao Si Bodse. Dinamakan Pak Buaya karena salah satu namanya berarti Buaya dan kelakuannya memang seperti buaya darat, sedangkan dinamakan Bodse karena dia sering sekali maki dengan ‘Bodse’ (Bodoh sekali). Dia jago menggarink. Di kuliah ini mahasiswa dapat tidur, terutama kalau Bodse lagi malas berjalan-jalan ke belakang. Di mata kuliah Bodse ini, tidak boleh ada bangku yang terloncati. Kalau ada dan sampai terlihat Bodse, jurusan yang membiarkan hal itu akan dikeluarkan. Suatu peraturan yang sangat aneh dan tidak masuk akal. Mungkin karena dia memang Bodse. Jurusan Ra pernah dikeluarkan karena alasan ini. Untuk menghilangkan rasa bosan, Ra menatap Blue Prince. Tapi kalau Blue Prince tidak terlihat, Ra akan tidur.
Dulu sebelum kelompok Ra terbentuk, Ra selalu masuk kelas sendiri. Menurut Ra, dia memasuki kelas dengan sikap yang normal. Lain lagi dengan pendapat orang-orang, menurut Baca Cepat, "Muka lo toh, ampuuun, deh! Minta digeplak!" menurut Toa, "Muka lo tuh judes banget seperti berbicara "jangan sapa gw!"" menurut Dodol, "Buset, dah! Kaya mau makan orang!" dan komentar-komentar yang senada. Ra hanya membela dengan, "Lha? Memang gw harus bagaimana? Tersenyum-senyum? Dikira sok selebriti lagi?!"
Satu hal yang selalu menjadi pertanyaan Ra, kenapa mata kuliah Grammar yang sangat membosankan itu selalu ditaruh pada jam ke 3, alias setelah makan siang? Semua orang tahu itu adalah jam tidur. Perut kenyang dan matahari terik, eh ditambah pelajaran super membosankan! ZZZzzz…
Tempat makan di kampus waktu tahun pertama kuliah, Kansas 1 (yang dekat Dekanat), kansas 2 (dekat mushola). Kansas 1 tempat nongkrong paling nyaman karena bisa mengawasi dosen yang keluar masuk, melihat pengumuman, dan letaknya memang di jalur keluar-masuk orang. Menu yang biasa ada: Balado telor mata sapi, ayam crispy, sayur kangkung, sayur sawi, sayur cap-cay, tempe-tahu goreng, ayam bumbu rica-rica, ati-ampela bumbu, lotek, mie rebus, tumis terung, sayur lobak, sosis bumbu. Ra paling suka makan sayur lobak. Ra dan Toa biasa bertukar-tukar menu. Orang lain mungkin akan jijik dengan kelakuan mereka, tapi mereka cuek aja. Mereka percaya bahwa mereka sama-sama sehat. PD banget. Ra juga sering bertukar menu dengan BeBi, minum langsung dari sedotan atau gelas BeBi. Sehat-sehat aja, tuh.
Selain masakan, ada juga kue-kue. Ra suka sekali dengan kue sus dan kue putu mayang, itu loh yang ijo seger plus parutan kelapa di atas. Saking seringnya Ra beli kue putu mayang, Toa jadi penasaran. Ra inget banget, saat itu mereka berdua sedang duduk di Blue Stage. Putu mayang di tangan Ra tinggal gigitan terakhir. Mungkin rasa penasaran Toa sudah di ubun-ubun, akhirnya, "Ra, emang rasanya gimana, sih? Cobain dong." Tepat Toa mengucapkan ‘dong’, secepat kilat Ra menyuapkan potongan terakhir putu mayang itu ke mulut Ra, kemudian mengunyahnya dan tersenyum licik ke Toa. Wajah Toa langsung terkejut, mulutnya terbuka lebar, dan..hanya berjarak 2 detik, keluar lah teriakan mautnya. "IIIIIHH!!!! LO KOK JAHAT BANGEEEEET!!!!"
Tahun pertama, MaBa diwajibkan ikut mentoring. Menurut Ra itu kegiatan yang asik buat menghilangkan stress, girly banget. Tapi hal yang Ra ingat dari mentoring justru bukan dari inti dari mentoring itu. Ceritanya begini, saat mencari lokasi mentoring, Ra dan kelompok Ra berputar ke belakang Gedung C. ternyata di sana ada seorang cewek yang badannya 2 kali lipat dari Ra, cukup manis, dia mengenakan celana tentara. Entah kenapa Celana Tentara itu melihat Ra sedemikian rupa. Awalnya Ra pikir mungkin dia kesal karena Ra mengganggu ketenangannya (dia sedang berbicara dengan seseorang). Tapi kejadian-kejadian selanjutnya barulah menjelaskan kenapa dia memandang Ra sedemikian rupa.
Suatu hari, Ra bertemu lagi dengan Celana Tentara saat Ra sedang jalan sendirian turun kampus. Ada motor ojek yang membawa penumpang melewati Ra. Selewatnya motor itu, Ra merasa ada yang menatap Ra jadi Ra mendongakkan kepala Ra. Ternyata Celana Tentara membalikkan tubuhnya, nyaris 180 derajat dan menatap Ra terus-menerus, kemudian tersenyum. Ra tidak bereaksi apapun karena Ra merasa tidak kenal. Selanjutnya, Ra bertemu lagi atau ditemukan oleh Celana Tentara saat Ra sedang menunggu kuliah di gedung C lantai 3. Ra memang sedang duduk sendiri di bangku depan tangga. Tiba-tiba ada yang berlari-lari dari tangga dan muncul lah Celana Tentara. Sambil masih terengah-engah, dia berhenti di ujung tangga, pas di depan Ra, menatap Ra, tersenyum. Karena Ra yakin tidak ada orang selain Ra, Ra balas tersenyum. Hanya sekitar 2 detik Ra membalas senyum, Celana Tentara membalikkan badan dan mulai menuruni tangga. Kejadian-kejadian ini akhirnya membuat Ra ngeh bahwa dia sedang ditaksir sesama jenis. Ini adalah sesuatu hal yang baru bagi Ra.
Ra memang boyish sejak kecil dan selalu bersaing dengan laki-laki di sekitarnya. Tapi, Ra tidak pernah bersaing dengan mereka dalam hal memperebutkan perhatian perempuan. Ra sempat diwanti-wanti oleh kakak Ra sebelum Ra kuliah untuk mengubah sedikit perilaku agar tidak terlalu boyish sebab Ra akan diincar, Ra dulu tidak perduli dengan kata-kata kakaknya itu. Setelah kejadian di depan tangga itu, Ra baru ngerti. Karena Ra pikir si Celana Tentara ingin menjadikan Ra sebagai lelakinya, Ra mengubah penampilannya plus didukung dengan kaki Ra yang keseleo jadilah ‘Puteri Solo’. Ternyata di dunia Lesbian, tidak hanya ‘lelaki’ dan ‘perempuan’ tapi juga ada daerah ‘abu-abu’ dan ini yang Ra tidak tahu. Setelah hampir satu semester menjadi feminin dan merasa cukup nyaman, Ra bertemu lagi dengan Celana Tentara di tangga depan gedung C. Ra kebetulan habis tertawa-tawa dengan Toa dan masih ada sisa di muka Ra, Celana Tentara melihat Ra dan dia tersenyum lebar. Ternyata Celana Tentara meletakkan Ra di daerah ‘abu-abu’ jadi tidak ada gunanya Ra merubah penampilan. Berhubung kaki Ra juga sudah sembuh, ya sudah kembali ke asal, kembali mengenakan celana panjang dan melangkah selebar yang Ra mau.
Latar belakang kenapa Ra berjalan dengan langkah lebar dan cepat adalah Ra penggemar tokoh Bima dari Pandawa Lima. Ra dibesarkan dengan cerita-cerita pewayangan karena itu pula nama Ra diambil dari tokoh pewayangan. Tokoh Bima digambarkan sebagai sosok yang tinggi besar, tampan, sikapnya agak kasar, jarang berbicara, bicara kalau memang diperlukan, sakti, bertenaga seperti 10 gajah dewasa (kalo ga salah), dan memiliki langkah yang panjang. Digambarkan pula bahwa jika dia berjalan bagaikan terbang saking cepatnya. Entah karena gambarnya bagus sedemikian rupa pokoknya sejak membaca komik Mahabarata itulah langkah Ra jadi lebar-lebar dan Ra selalu menatap iri pada orang-orang yang memiliki kaki panjang. Banyak orang bilang jalan Ra kaya laki-laki, kaya mo nagih hutang, gagah, tapi yang paling Ra suka adalah ungkapan, ‘kebelet pipis’.
To Be Continued…