Years In College Part 3: Pre-Gates, Pengukuhan Sastra, ‘Blue Prince’, Dodol, Asem & D6
Monday, July 31st, 2006Saat Pre-gates, Ra ingat Ra berlari ke sana - ke mari untuk memenangkan perlombaan. Menjawab quiz tebak kata dalam sekian detik. Menerka lagu yang liriknya diacak kemudian disuruh menyanyikan plus gerakan yang ada di Video Clip (kelompok Ra dapet lagunya Spice Girls - (Lupa judulnya)). Satu hal yang paling Ra ingat adalah saat mendeskripsikan film tanpa kata-kata. Sialnya Ra mendapatkan "The Patriot". Ra cuma ingat dua adegan dalam film itu yaitu antara Mel Gibson membunuh musuhnya dengan kapak dan Mel Gibson mengibarkan bendera dengan semangatnya. Ra tadinya ingin memperagakan Mel Gibson membunuh dengan kapak, tapi Ra pikir itu bukan saatnya untuk menunjukan sisi psychopath Ra (dan ternyata untuk menujukkan sisi psychopath Ra memang tidak memerlukan gerakan itu, semua orang sudah mengetahuinya dengan instinct bertahan mereka, ha3x), akhirnya Ra memperagakan Mel Gibson mengibarkan bendera. Ra sukses terlihat seperti orang gila dan tidak ada yang bisa menebak. Akhirnya team Ra kalah.
Tanggal 5 September 2001, saat kuliah Grammar I, tiba-tiba ada pengumuman bahwa usai jam kuliah disuruh kumpul di PSBJ. Akhirnya Ra terduduk di depan PSBJ memegang sebungkus mie dari panitia Jamsas dan duduk bersebelahan dengan (Panic) P.S., seorang perempuan Jawa yang belakangan Ra tahu ternyata dia emang selalu meledak-ledak dan panik. Ra yang saat itu lagi diare dan berusaha mati-matian menahan agar tidak ada kebocoran, hanya menatap kesal ke bungkus mie yang Ra takut tidak hiegenis dan sibuk berdoa agar acara itu segera selesai. Tiba-tiba ada suara, "Kalau tidak mau, untuk aku saja, taruh aja di sini." Ra menengok ke arah suara itu yang ternyata dimiliki oleh seorang anak laki-laki kurus, berkulit putih, berwajah mungil tampan, berkaca mata, bermata sayu warna cokelat, berhidung mungil, dan berambut lurus. Dia duduk dengan santainya tanpa takut celananya kotor (saat itu Ra pakai celana jeans putih). Dia mengenakan sweater biru langit dan celana jeans biru tua. Sejak itu dan 2 tahun ke depan, mata Ra tak lepas dari sosok yang satu itu.
Ternyata mereka disuruh kumpul untuk pengukuhan sebagai mahasiswa Sastra. Suatu kegiatan yang menyebalkan. Anak-anak MaBa itu dijejalkan di dalam ruangan. Mereka disuruh membentuk lingkaran di mana yang perempuan di dalam dan yang laki-laki di luar. Mereka harus menggandeng dengan gandengan teko erat-erat sebab senior-senior bodoh yang menurut Ra bertingkah seperti anjing-anjing gila berusaha menerjang-terjang. Ra saat itu hanya sibuk bertahan dengan perut Ra sendiri agar tidak terjadi kebocoran diare. Akhirnya acara selesai dan masing-masing MaBa mendapatkan scarf warna biru langit.
Ra hanya bertemu H.I., anak laki-laki bersweater biru di PSBJ, saat kuliah bersama. Setiap ada kesempatan Ra menatapnya. Dia sering sekali tidur di kelas. Akhirnya setelah beberapa kesempatan, Ra menjadi lebih dekat dengan dia, yang Ra namakan, "Blue Prince". Setiap melihat Blue Prince, Ra merasa seperti boneka yang di-charge terlalu lama hingga rusak. Ra tidak dapat berhenti tersenyum dan kadang Ra melompat-lompat kecil seperti anak kecil mendapat mainan baru.
Blue Prince ternyata fans berat Suede. Ra memang suka Suede tapi sebenarnya Ra lebih cenderung menyukai keyboardistnya, Neil Codling. Selama kenal Blue Prince, mereka hanya sampai makan bareng untuk merayakan Ulang Tahun Blue Prince, ngobrol di balkon, Blue Prince mencium tangan Ra, berangkat ke kampus bareng 1 kali, dan turun bareng dari kampus, entah berapa kali. Pernah suatu kali Ra sedang tidak ingin memberi dia perhatian hanya menyapa dia yang sedang duduk di lorong dan melangkah terus, Blue Prince mengangkat tangannya dan meraih tangan Ra dan menahan Ra, "temani aku," katanya.
Kalau Ra sedang berbahagia karena bertemu Blue Prince itu membawa suka dan duka pada Dodol, Y.B., "kakak" Ra dari D-6. Kenapa? Karena Dodol senang melihat Ra tersenyum, tidak berwajah sangar, membuat Ra tidak menakutkan katanya tapi Dodol juga berduka pada dirinya sendiri karena kegembiraan Ra yang meluap-luap kadang membuat Ra melampiaskannya ke Dodol dengan cara menggeplak tangan Dodol atau meremas tangan Dodol.
Cerita tentang Dodol, Ra kenal Dodol pertama kali saat kuliah bareng MKI I kalau tidak salah ingat. Dodol sudah datang terlebih dulu. Ra melihat bangku yang kosong dan dekat dengan lorong adalah di samping Dodol, akhirnya Ra duduk di sebelah Dodol (alasan Ra hampir selalu duduk di dekat lorong adalah agar Ra mudah keluar kalau ingin ke toilet dan tidak usah menginjak kaki orang). Dodol duduk pas di samping lorong. Ra yang ingin melihat ke Blue Prince dan terhalang Dodol akhirnya harus maju-maju sedikit. Dodol yang mungkin bosan dengan kuliah jadi penasaran apa yang Ra lakukan. Dodol mengikuti arah mata Ra dan nyeletuk, "Kamu ngeliatin anak yang pake kacamata itu? Itu anak Arab."
Ra sempet tengsin, tapi Ra pikir ‘What the heck lah!’. "Kamu kenal?" tanya Ra. Akhirnya Dodol menjelaskan bahwa Blue Prince suka main ke asramanya, D-6 karena di asramanya juga ada anak Sastra Arab. Sejak itu Ra suka main ke asrama D-6, selain tempat itu memang nyaman banget untuk tidur siang. Ra juga sebagai ‘adik’ harus membangunkan mereka di pagi hari agar tidak terlambat atau bolos kuliah. Hari itu juga bubaran mata kuliah MKI I, Blue Prince yang berjalan menuju di lorong menuju keluar aula dipanggil Dodol dan memperkenalkan ke Ra yang saat itu tidak menduga sama sekali bahwa Dodol akan seinisiatif itu, suatu keinisiatifan yang patut diterimakasihkan. Sayang, Blue Prince ternyata sudah memilih Princess.
Di D-6 itu ada Asem (I.S.), Dodol (Y.B.), Bali (A.), Garink (R.), Gigi Putih (H.S.-Anak Arab) dan Jam Weker Berjalan (I.). Asem juga satu jurusan dengan Ra. Sebenarnya Ra pertama kenal sama dia bukan saat di kelas, melainkan saat Ospek Universitas, saat masih mengenakan seragam biru-abu-abu. Asem bertanya sesuatu pada Ra saat itu, tapi dia emang lagi apes mungkin, Ra sedang merasa bosan dan kesal dan merasa tidak kenal dia, jadi Ra tatap sinis dia dan menjawab, "tidak tahu." Setelah kenal lebih dekat Asem baru deh cerita betapa sadis muka Ra saat itu.
Ra ingat, suatu sore, Ra dan Toa yang ga ada kerjaan, iseng datang ke asrama D-6 untuk pertama kalinya. Asem merasa panik dan tidak memperbolehkan Ra dan Toa masuk. Berantakan katanya. Ra bilang Ra punya kakak laki-laki jadi Ra merasa biasa saja dengan keberantakannya. Setelah merapihkan ala kadarnya, Asem memperbolehkan Ra dan Toa masuk. Tapi saat Ra menuju pintu ke halaman belakang, Asem kembali panik. Rupanya ada jemuran kolor warna-warni. Asem tersipu-sipu malu. Lucu sekali. Setelah kenal lebih lama…anak-anak D-6 sudah tidak perduli lagi apakah asrama sedang berantakan, di halaman belakang ada jemuran kolor, atau di kamar mandi ada rendaman pakaian kotor. Kedekatan Ra dengan Dodol ternyata sempat merebakkan rumour bahwa ada sesuatu di antara mereka dan Ra baru dengar hal itu saat semester 7 dan hanya merasa jengah. Lemot banget, ya?
Ra kadang menginap di D-6 kalau ada acara band di kampus. Tentunya Ra menguasai salah satu kamar dan itu artinya penghuni kamar sebenarnya akan mengungsi di kamar yang lain dan berjejalan. Ha3x…
Ra dan Toa pernah menghabiskan waktu istirahat siang di D-6 dengan memainkan Play Station game Soccer. Tentunya mereka tidak bermain dengan sungguh-sungguh, tapi mereka mendalaminya dengan baik dengan teriakan-teriakan histeris mereka. Ra, Toa, dan (Hey Ya Outkast) Y.S. juga pernah menghabiskan jam istirahat siang di D-6 dengan main monopoli dan ular tangga.
Mengenai anak-anak D-6, Bali dan Garink satu fakultas. Bali itu orang Bali, mirip lah ama Bujana. Dia orangnya kalem, item manis, kecil, dan baik hati. Kalau Garink, dia orang Jawa Tengah, tinggi, mukanya loncong, ngomongnya agak cadel, rambut ikal seperti Ra, rajin masak dan bersih-bersih, dan rajin pula menggarink, biasanya tebak-tebakan. Masakan andalan Garink, Cap Cay dan Mie Goreng Telor yang dibentuk seperti Pizza. Kalau lagi bokek dan malas ke tempat makan, Ra dengan senang hati memakan menu itu. Gigi Putih kalau tidak salah satu daerah dengan Dodol, giginya putih banget meski dia merokok, rambutnya kriting dan punya senyum manis. Asem juga satu daerah denagn Garink. Asem selalu mengumpat dengan ungkapan ‘Asem!’ kalo lagi sebel, kecele, atau yang mirip-mirip. Salah satu kalimat fave dia: "… Aku padamu…" Asem orangnya item manis, kecil, rambut lurus, murah senyum, dan baik hati banget. Jam Weker Berjalan dijuluki begitu karena dia memang seperti jam weker berjalan. Setiap ada adzhan subuh, dia akan mengetok kamar yang lain untuk bangun. Orangnya putih, tampan, dan senyumnya manis.
To Be Continued…